Untuk anak-anak: Masalah adalah kesempatan yang memakai baju kerja. —Henry Kaiser Untuk orangtua: Orang yang pesimis mengatakan, “Saya akan percaya setelah melihatnya.” Orang yang optimis mengatakan, “Saya akan melihatnya jika saya percaya.” —Robert Schuller kakek saya seorang pemimpin. beliau tidak memiliki keistimewaan fisik, tetapi energi kreatif dan begitu banyak impian memenuhi dirinya dengan semangat dan gaya yang penuh aksi yang membuat dia selalu dicintai oleh istrinya, kedelapan anak, dan semua orang yang mengenal beliau. Pada suatu hari Natal, kakek king memberi hadiah kepada setiap anaknya sebuah alat musik, mengajarkan mereka cara memainkan alat itu dan menyanyi, melahirkan sebuah orkestra keluarga yang selama sekitar sepuluh tahun beliau pertunjukan di jalan-jalan.
Oleh karena saat itu sedang masa Depresi, uang yang dihasilkan dari bermain konser kecil di gereja dan sekolah-sekolah di Barat sangat sedikit, jadi keluarganya menderita kekuarangan dan hidup dari sedikit uang hasil dari melakukan konser. Kakek tidak terlalu peduli tentang punya rumah atau baju-baju bagu; rasa aman yang beliau berikan kepada keluarganya berasal dari pengalaman menjalani hidup nayata yang bagi beliau termasuk mengejar mimpi dalam dunia musik dan seni, sastra, perjalanan, alam, dan keindahan. Jadi, pria menarik ini bersusah payah menghidupi keluarga besarnya pada 1920-an dan 1930-an sambil memperlihatkan semua kekayaan hidup yang tak bisa di beli dengan uang. Saat anak-anaknya beranjak dewasa baru-baru ini mengenang masa kecil mereka yang bergaya gipsi (berpindah-pindah seperti kehidupan kaum gipsi-penerj.), salah satu putri terkecilnya mengatakan, “Aapa kau-ingat malam-malam musim panas yang segar dan romantis itu saat seluruh keluarga berkemah di alam terbuka di bawah bintang, mendengarkan Ayah mengajarkan kepada kita gugusan bintang di angkasa dan menghitung kembali istilah botanik semua pohon dan bunga sepanjang jalan yang telah kita lewati? Ingatkah kau, betapa menyenangkannya berkemah berminggu-minggu selama kita melakukan perjalanan?” Atas pertanyaan itu, kakak perempuannya yang lebih praktis menjawab, “Sayang, kita bukan sedang berkemah. Kita tunawisma!” Pengalaman menyenangkan dan petualangan menegangkan versus kesengsaraan akibat kondisi tidak punya rumah. Bedanya adalah pada persepsi—bedanya terletak pada sikap. Kita semua tahu bahwa sikap bisa berpengaruh besar terhadap kesuksesan dan kebahagiaan dalam hidup. Menurut William James, kita bisa mengubah seluruh hidup kita hanya dengan mengubah sikap kita. Dan sikap itu menular—seperti penyakit cacar, jika berada dekat orang yang tengah mengidap, kita akan tertular. Oleh karena anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya “berada dekat” dengan orangtuanya, mereka akan “tertular” sebagian besar sikap mental orangtuanya. Meskipun kebanyakan orangtua tidak selalu menjadi gambaran sempurna orang yang selalu bersikap optimistis dan antusias, ada hal-hal yang bisa kita ajarkan kepada anak-anak. Hal-hal yang bisa membantu mereka memahami konsep berpikir positif dan berpikir negatif. Pembicara motivasi Zig Zaglar membandingkan pikiran manusia dengan sebuah taman. Jika kita menanam jagung di sebuah kebun, kita tak mungkin akan menuai kentang. Apa pun yang kita tanam, pada akhirnya akan tumbuh. Begitu juga apabila kita menanam pikiran negatif dalam benak kita, kita akan menuai reaksi dan sikap negatif. Sebagai tambaha, jika kita menanam jagung, satu biji tak akan menghasilkan satu biji jagung lagi. Tetapi banyak biji jagung. Pikiran kita bekerja dengan cara yang serupa; apa pun yang kautanamkan, maka pikiran kita akan melipatgandakannya. Pemikiran negatif atau positif akan mengandalkan diri untuk menghasilkan banyak sikap negatif atau positif. Suatu hari, saat keseribu kali usahanya untuk membuat bola lampu gagal, Thomas Edison ditanya seorang wartawan, “Tuan Edison, bagaimana rasanya gagal berkali-kali?” Itu pertanyaan yang tak terduga untuk Edison, tetapi dia menjawab dengan tenang, “Gagal? Saya belum pernah gagal sekali pun. Kini saya tahu seribu cara yang tak bisa dipakai untuk membuat bola lampu.” Ada begitu banyak teladan seperti kisah Edison yang bisa digunakan untuk mendemonstrasikan kepada anak-anak hal-hal hebat yang berhasil dicapai oleh mereka yang tetap menjaga sikap positifnya. Meskipun sebagai besar keberhasilan dan kegagalan yang dialami anak-anak kiya akan banyak memengaruhi dunia seperti Thomas Edison, mereka perlu diajari bahwa menjaga pandangan positif, bahkan dalam peristiwa yang tidak mengenakkan, akan menjadikan mereka manusia yang lebih bahagia. Seorang teman saya memiliki seorang putri, Erin namanya. Erin tergabung dalam sebuah tim basket yang selalu kalah. Sejauh ini, tim mereka selalu kalah dalam semua pertandingan yang dilakukan dan kini hanya tinggal empat pertandingan untuk musim ini. Erin merasa rendah diri, begitu pula rekan-rekan setimnya yang lain. Mereka rasa, kesempatan untuk memenangi keempat pertandingan yang tersisa sengat kecil dan Erin ingin keluar dari timnya segera sebelum dia lebih diperlukan. sUatu hari, usai berlatih Erin mengeluh kepada ibunya dan si ibu bukannya memberi kuliah, malah memutuskan untuk mendemonstrasikan permainan Tenggelam dan Berenang |