|
Jumlah peserta : 2 atau lebih Usia : 4 tahun ke atas Bahan yang diperlukan : bahan jagung popcorn, popcorn yang sudah jadi (kalau bisa, yang baru dibuat) Tunjukan bahan jagung popcorn kepada anak-anak dan biarkan mereka mengamati biji itu. tanyakan apakah biji itu enak rasanya jika dimakan. Mintalah si anak untuk mencium baunya dan mengatakan bagaimana baunya. Lalu tanyakan, apa yang harus dia lakukan untuk membuatnya dapat dimakan. Sekarang, tunjukan popcorn yang sudah jadi kepada anak-anak (atau izinkan mereka membantu Anda membuatnya). Minta dia untuk memberi tahu Anda bagaimana baunya. Minta dia untuk memakannya beberapa biji dan tanyakan bagaimana rasanya. Jelaskan bahwa jika kita memberi panas pada biji jagung, mereka akan “mekar” menjadi popcorn lezat yang lembut berwarna putih atau kuning. Dengan anak yang lebih besar, tanyakan kepada mereka bagaimana demonstrasi kecil ini bisa diterapkan pada potensi dan bakat pribadi kiya jika biji yang belum berkembang itu mewakili bakat terpendam. Hal apa dalam hidup yang bisa kita bandingkan dengan panas untuk membuat popcorn itu berkembang?
Untuk anak yang lebih kecil, jelaskan bahwa bakat dan kemampuan kita (sebutkan bakat khusus yang dimiliki anak, seperti kemampuannya memainkan sebuah alat musik, olahraga seperti sepak bola, bisbol, menggambar, menulis cerita, menyanyi, emnari, membuat orang lain tertawa) sama dengan popcorn yang belum mengembang jika kita tak melakukan apa-apa untuk mengembangkannya, maka bakat itu akan tetap menjadi biji dan dingin, keras, dan tak berguna di dalam diri kita. Jika kita memberikan panas dan energi pada bakat-bakat itu (energi yang diperlukan untuk berlatih dan mengembangkan bakat), bakat-bakat itu akan muncul dan menjadi berguna bagi kita. Dan selain memberikan keuntungan kepada kita, bakat juga memberikan kebahagiaan (aroma dan rasa popcorn) bagi mereka yang ada di sekitar kita. Bicarakan tentang bakat pribadi tiap-tiap anak dan bagaimana dia bisa mengembangkan. Tanyakan apakah menurutnya dia perlu membagikan bakat dan kemampuannya itu kepada orang lain. Apa yang terjadi jika dia hanya mengembangkan kemampuannya untuk kepentingan sendiri? Untuk lebih membuat prinsip ini mudah dipahami, ceritakan tentang semak mawar yang bunganya tidak pernah dipotong—yang tidak pernah “memberikan” kecantikannya dan bandingkan dengan semak mawar yang bunganya secara berkala dipotong untuk memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Hanya dengan memberikan sesuatu kepada orang lainlah pribadi kita bisa berkembang. Semakin banyak kita berbagi dengan orang lain, semakin banyak kita berkembang.[] |