|
Jumlah peserta : 2 atau lebih Usia : 5 tahun ke atas Bahan yang diperlukan : selembar uang kertas Rp 1.000,00 10 keping uang logam Rp 100,00 Tunjukan uang kertas ribuan dan uang logam seratus rupiah. Mintalah anak-anak untuk mempelajarinya, lalu mencoba untuk menemukan perbedaan antara uang kertas dan uang logam itu. terimalah hasil pengamatan mereka dan tambahkan dengan hasil pengamatan Anda sendiri jika belum mereka sebutkan. Uang logam terasa keras saat disentuh, sedang uang kertas lembut dan lentur. Uang logam berdenting ramai saat dijatuhkan ke atas meja, sedangkan uang kertas tidak menimbulkan suara. Uang kertas berwarna biru, sedang uang logam berwarna kuning tembaga. Uang logam lebih berat daripada uang kertas. Bentuk uang logam berbeda dengan uang kertas. Kita bisa robek uang kertas, tetapi kita tak bisa merobek atau mematahkan uang logam. Uang kertas bisa kusut, tetapi uang logam tidak. Ingatlah juga mereka bahwa meskipun kedua benda ini memiliki banyak perbedaan, keduanya memiliki nilai dan harga yang sama.
Sekarang, hubungkan perbandingan antara uang kertas dan uang logam dengan manusia. Mintalah anak-anak untuk mengatakan bagaimana manusia itu berbeda satu sama lain. Anda bisa menyarankan beberapa ide serupa dengan yang dipakai untuk membandingkan uang kertas dan uang logam. Beberapa orang ada yang sulit untuk dijadikan teman, sementara yang lain lebih fleksibel. Ada orang yang sangat ribut dan senang berbicara. Ada orang yang lembut dan pemalu. Manusia memiliki warna kulit yang berbeda-beda, tergantung pada kebangsaannya. Ada orang yang gemuk dan ada yang kurus. Manusia memiliki bentuk dan ukuran yang berbeda-beda. Ada yang lebih mudah “dipatahkan” dibandingkan yang lain (menjadi tak percaya diri, sedih, mengalah pada godaan). Ada orang yang tampak keriput dan tua, ada juga orang yang tetap “tampak” muda. Jika uang logam dan uang kertas, meskipun memiliki beberapa perbedaan, bernilai sama, bagaimana dengan manusia? Diskusikan ide bahwa untuk menjadi manusia yang baik dan ramah, kita harus mengenali lebih dahulu nilai manusia yang tak terbatas. Mintalah anak-anak untuk memikirkan maknanya melalui contoh yang lebih praktis, seperti orang tua yang tekadang bersikap eneh, anggota keluarga yang tak selalu melakukan apa yang kita inginkan, teman sekolah yang tak selalu ramah, guru yang terkadang tampak kurang adil, tokoh politik yang padangannya kurang kita setujui, atau orang dari negara lain yang kebudayaannya tidak kita pahami |